Rabu, 19 Oktober 2011

never judge a book by its cover

Di film "My name is Khan" diajarkan bahwa orang ada 2 macam: orang baik dan orang jahat. Orang yang baik adalah orang yang melakukan perbuatan baik. Orang jahat adalah orang yang melakukan perbuatan jahat.  Tidak ada pembedaan orang baik dan orang jahat berdasar baju yang dipakai, suku bangsanya, daerah tempat tinggalnya, atau dari apa yang diyakininya. Itu hanyalah atribut. Siapa sebenarnya seseorang ditentukan oleh apa yang dilakukannya.

Sederhana, tetapi mengena.

***

Disadari atau tidak, kita senantiasa melakukan penilaian terhadap orang lain. Pada orang-orang tertentu bahkan tidak sekedar memberi penilaian, tetapi sekaligus memberikan "cap" ke orang lain.

Bila pada pertemuan pertama tidak banyak bicara, maka dicap pendiam dan terlalu serius. Bila banyak senyum dicap orang yang ramah. Bila banyak bicara dicap cerewet dan sok tau. Bila mementingkan kebenaran dan kesantunan dicap orang yang baik. Bila banyak bertanya dicap suka menyelidiki. Bila berkomitmen untuk memberikan bantuan dicap orang dermawan.

Cap yang baik akan mempermudah komunikasi, karena dasar hubungan manusianya adalah prasangka yang baik. Sedangkan cap yang buruk sudah pasti akan merusak komunikasi, menyebabkan hubungan yang tidak sehat karena menimbulkan prasangka buruk atas setiap tindakan orang lain. Bahkan perbuatan baik yang secara nilai-nilai masyarakat dianggap baik pun bisa ditafsirkan buruk hanya agar sesuai dengan cap buruk yang sudah terlanjur diberikan.

Pemberian cap adalah hal yang wajar selama kita melakukannya seobyektif mungkin, dan tidak menganggap itu sebagai cap permanen. Karena yang menjadi dasar cap hanyalah pengamatan sekilas dan tidak lengkap atas perilaku orang tersebut. Dan mesti disadari bahwa kepribadian asli seseorang tidak bisa terlihat begitu saja, apalagi bila bertemu orang baru. Ada kecenderungan untuk jaim di situ. Di sisi lain, manusia juga selalu berubah, tergantung pengalaman hidup yang dilaluinya; sehingga tidak lah bijak memberikan cap permanen hanya berdasarkan pengamatan yang sekilas dan tidak lengkap tersebut.

Tetapi yang paling kejam adalah memberikan cap ke orang lain hanya berdasarkan bentuk wajah. Bagaimana orang akan membela diri jika yang jadi dasar cap adalah bentuk wajah? haruskah melakukan operasi plastik dulu agar bisa dinilai sebagai orang baik? heee... :p

Salahkah bila menilai orang lain berdasar bentuk wajah?

Ada satu buku tentang bahasa tubuh yang menyatakan bahwa ekspresi keseharian seseorang akan tertanam di wajah orang tersebut. Bila orang selalu tersenyum dan menampilkan wajah optimis setiap harinya, maka aura senyum dan optimisme akan terlihat di orang itu, walaupun dia sedang diam. Contohnya mungkin mantan presiden Indonesia, Soeharto, yang karena wajah senyumnya sampai-sampai diberikan cap Smiling General.
Sebaliknya bila orang selalu cemberut dan curiga setiap saat, maka ekspresi cemberut dan curiga itu juga tertanam di wajah dan menampilkan ciri bulldog face, wajah yang tidak ramah.

Kebiasaan membentuk kepribadian kita; dan kebiasaan kita dalam mengekspresikan perasaan, akan membentuk wajah kita.

Penting untuk disadari bahwa: diperlukan mata yang berbakat dan terlatih untuk bisa memberikan penilaian yang akurat tentang kepribadian seseorang hanya berdasarkan bentuk wajahnya. Bila kita orang awam dalam ilmu bahasa tubuh dan ekspresi wajah, lebih baik kita kembali ke nasihat orang-orang bijak terdahulu: never judge a book by its cover =)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar