akhir tahun, hmm.... selama beberapa tahun ini, akhir tahun selalu menjadi momen sedih.
sedih karena ternyata tidak banyak pencapaian yang terlampaui.
sedih karena kualitas diri dirasa tidak meningkat (bahkan mungkin menurun)
sedih karena bertambah tua dan tidak bertambah bijaksana
sedih karena waktu yang begitu mahal harganya itu telah banyak tersia-sia
sedih karena melewatkan banyak kesempatan untuk menjadi diri lebih baik
sedih karena masalah-masalah lama tidak kunjung terselesaikan
sedih karena belum juga ada yang bisa dibanggakan dari diri
you see...? begitu banyak kesedihan.
i hate year end!
Jumat, 30 Desember 2011
Selasa, 15 November 2011
pintu kesenangan atau pintu kesusahan
Tiba-tiba teringat nasehat ustad Yusuf Mansyur: Tuhan itu senang kalau kita mendekat kepada-Nya.
Kalo kita mendekat saat kita senang, itu hal yang sangat baik. Itu adalah tanda bahwa kita bersyukur; maka kesenangan yang kita nikmati akan bertambah dan bertambah.
Tapi kalo saat senang kita melupakan-Nya, bisa jadi Dia akan membukakan pintu kesusahan, semata-mata agar Dia bisa mendengar rengekan manja kita kepada-Nya; supaya kita mengingat-Nya.
Jadi terserah kepada kepada kita, mau mendekati-Nya dari pintu kesenangan atau pintu kesusahan.
Hmm... :p
Kalo kita mendekat saat kita senang, itu hal yang sangat baik. Itu adalah tanda bahwa kita bersyukur; maka kesenangan yang kita nikmati akan bertambah dan bertambah.
Tapi kalo saat senang kita melupakan-Nya, bisa jadi Dia akan membukakan pintu kesusahan, semata-mata agar Dia bisa mendengar rengekan manja kita kepada-Nya; supaya kita mengingat-Nya.
Jadi terserah kepada kepada kita, mau mendekati-Nya dari pintu kesenangan atau pintu kesusahan.
Hmm... :p
Selasa, 25 Oktober 2011
menjadi manusia terbaik
Seorang manusia yang maksum, yang dijamin error-free, telah menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang manusia yang BERMANFAAT.
Sound great to me.
Then, I think “hidup sekali lalu mati..sayang kalo nggak punya arti”.
So..i tell to my self:
Supaya bisa bermanfaat, aku mesti sehat. Sehat lahir batin. Kalo aku sakit tidak bisa menolong orang lain, malah perlu ditolong, jadi beban buat yang laen. Jadi, aku akan olahraga & istirahat yang cukup, makan yang bergizi bukan sekedar yang enak. Dari sisi mental, aku akan banyak bersyukur, mendengarkan musik-musik bagus, nonton film berkualitas, lebih melihat sisi baik orang instead of sisi jeleknya, aku akan selalu tersenyum dan menikmati hidup..
Supaya bisa bermanfaat, aku mesti punya duit. Jaman sekarang, walaupun duit bukan segalanya tapi segalanya perlu duit. Banyak yang bisa aku tolong kalo punya cukup duit. Money has great power. Oya, spiderman said: great power, great responsibility..Btw, duit yang aku punya harus berasal dari sumber yang halal. Sebanyak apapun, tapi nggak halal, aku sangat yakin nggak akan berkah. Ustadz bilang memakai uang haram untuk ibadah itu laksana mensucikan diri tapi dengan air najis. Hasilnya nggak bakalan suci..
Supaya bisa bermanfaat, aku mesti pinter. Menasehati orang dengan petunjuk yang salah, karena kebodohan aku, justru bisa menjerumuskan orang tersebut. Orang audit bilang GIGO: garbage in garbage out. Kalo inputnya sampah, keluarnya ya sampah juga :”P Oya, aku yakin, biar pinter aku bisa belajar dari mana saja. Tidak harus dari kuliah atau kursus, tapi bisa dari buku, dari ngobrol sama orang, mempelajari alam sekitar, dari film, atau dari manapun yang aku lihat atau dengar atau rasakan. Aku akan dengan senang hati sharing, berbagi yang aku tahu, dengan orang yang memerlukan.. aku akan jadi pohon yang lebat dan berbuah banyak, tidak menjadi keledai yang memanggul kitab-kitab pengetahuan di punggungnya..
Supaya bisa bermanfaat, aku mesti mandiri. Mandiri terutama dimulai dari sikap mental. Aku mesti meyakinkan diri kalau aku sudah dewasa, sudah gedhe, sudah bisa mengurus diri sendiri. Nggak punya mental pengemis. Tapi aku sadar kalo 100% mandiri tidaklah mungkin, karena aku juga makhluk sosial, tinggal di komunitas manusia, bukan di hutan. Lagian, seperti kata Stephen R Covey, hidup bermasyarakat yang paling baik adalah kesaling tergantungan = hubungan saling membutuhkan dari pribadi-pribadi yang mandiri.
Supaya bisa bermanfaat, aku mesti approachable, bisa dideketin sama siapa saja. Orang nggak boleh takut sama aku, justru senang sharing suka & suka sama aku. Jadi, aku akan menjaga penampilan dan lebih behave, mau mendengarkan dan menunjukkan simpati. Intinya, I open my self to de world.
Supaya bisa bermanfaat, aku mesti always stay positive. Aku percaya kalo otak memancarkan gelombang energi positif atau negative sesuai yang aku pikirkan, jadi aku akan selalu berusaha positive thinking dan menularkannya ke orang lain. Selalu menjaga kesadaran supaya aku tidak melakukan self sabotage. Berusaha sebisa mungkin meng-inspire others to be more positive. Masih inget dulu dosenku bilang “good teacher.. teaching; best teacher.. explaining; great teacher.. inspiring”.
Supaya bisa bermanfaat, aku nggak mesti nunggu jadi kaya dulu, atau bener-bener fit dulu, atau mandiri dulu atau jadi orang jenius dulu, buat bantuin orang. Aku yakin semua bisa dilakuin bareng. Walaupun hasilnya belum tentu yang terbaik tapi yang penting sudah ada niat dan usaha untuk melakukan sebaik mungkin =)
Kamis, 20 Oktober 2011
benar saja tidak cukup
Alkisah ada seorang alim yang suatu saat nasehatnya ternyata membuat seorang kaya tersindir dan menjadi tersinggung. begitu tersinggungnya orang kaya ini sehingga setiap yang orang alim lakukan terlihat salah di matanya, dan setiap yang diucapkan orang alim akan diambil penafsiran yang terjelek.
Lama kelamaan orang alim pun merasa terusik, walaupun tahu bahwa orang kaya tersebut hanya menurutkan nafsu emosi dan bukannya mengambil hikmah dari nasehatnya, tetapi perilaku orang kaya tersebut semakin tidak mengenakkan dan kasar.
Sehingga orang alim pun menemui orang kaya tadi dan bertanya "Apakah aku lebih jahat dari Fir'aun?".
"Tidak" jawab orang kaya.
"Apakah kamu lebih mulia daripada Nabi Musa?" lanjut orang alim.
"Tentu saja tidak. Dia nabi sementara aku manusia biasa" jawab orang kaya tanpa ragu.
Kemudian orang alim pun berkata "Lalu mengapa kamu berlaku kasar kepadaku, sementara Nabi Musa sendiri diminta Allah untuk menasihati Fir'aun dengan perkataan yang baik?".
***
Banyak orang yang bilang bahwa selama kita benar, maka kita harus terus maju. Maju terus menerjang semua yang menghalangi.
Tapi apakah bijak untuk seperti itu?
Apa yang kita anggap benar, belum tentu benar di mata orang Tuhan. Tuhan lah pemilik kebenaran sejati.
Dan setiap orang mempunyai alasannya sendiri ketika melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Bila tidak mengetahui alasannya, maka yang terbaik buat jiwa kita sebenarnya adalah untuk berbaik sangka. Kalau itu menyangkut hal yang penting, maka sebaiknya kita lakukan konfirmasi agar tidak salah sangka.
Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, kesantunan dan kesabaran layak untuk dipertimbangkan dalam memilih reaksi kita dalam pergaulan.
Adalah lebih menyenangkan bagi kita untuk hidup dalam kedamaian, cinta dan kasih sayang; daripada hidup yang dipenuhi kebencian, prasangka dan penyesalan.
Lama kelamaan orang alim pun merasa terusik, walaupun tahu bahwa orang kaya tersebut hanya menurutkan nafsu emosi dan bukannya mengambil hikmah dari nasehatnya, tetapi perilaku orang kaya tersebut semakin tidak mengenakkan dan kasar.
Sehingga orang alim pun menemui orang kaya tadi dan bertanya "Apakah aku lebih jahat dari Fir'aun?".
"Tidak" jawab orang kaya.
"Apakah kamu lebih mulia daripada Nabi Musa?" lanjut orang alim.
"Tentu saja tidak. Dia nabi sementara aku manusia biasa" jawab orang kaya tanpa ragu.
Kemudian orang alim pun berkata "Lalu mengapa kamu berlaku kasar kepadaku, sementara Nabi Musa sendiri diminta Allah untuk menasihati Fir'aun dengan perkataan yang baik?".
***
Banyak orang yang bilang bahwa selama kita benar, maka kita harus terus maju. Maju terus menerjang semua yang menghalangi.
Tapi apakah bijak untuk seperti itu?
Apa yang kita anggap benar, belum tentu benar di mata orang Tuhan. Tuhan lah pemilik kebenaran sejati.
Dan setiap orang mempunyai alasannya sendiri ketika melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Bila tidak mengetahui alasannya, maka yang terbaik buat jiwa kita sebenarnya adalah untuk berbaik sangka. Kalau itu menyangkut hal yang penting, maka sebaiknya kita lakukan konfirmasi agar tidak salah sangka.
Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, kesantunan dan kesabaran layak untuk dipertimbangkan dalam memilih reaksi kita dalam pergaulan.
Adalah lebih menyenangkan bagi kita untuk hidup dalam kedamaian, cinta dan kasih sayang; daripada hidup yang dipenuhi kebencian, prasangka dan penyesalan.
Rabu, 19 Oktober 2011
never judge a book by its cover
Di film "My name is Khan" diajarkan bahwa orang ada 2 macam: orang baik dan orang jahat. Orang yang baik adalah orang yang melakukan perbuatan baik. Orang jahat adalah orang yang melakukan perbuatan jahat. Tidak ada pembedaan orang baik dan orang jahat berdasar baju yang dipakai, suku bangsanya, daerah tempat tinggalnya, atau dari apa yang diyakininya. Itu hanyalah atribut. Siapa sebenarnya seseorang ditentukan oleh apa yang dilakukannya.
***
Sebaliknya bila orang selalu cemberut dan curiga setiap saat, maka ekspresi cemberut dan curiga itu juga tertanam di wajah dan menampilkan ciri bulldog face, wajah yang tidak ramah.
Sederhana, tetapi mengena.
Disadari atau tidak, kita senantiasa melakukan penilaian terhadap orang lain. Pada orang-orang tertentu bahkan tidak sekedar memberi penilaian, tetapi sekaligus memberikan "cap" ke orang lain.
Bila pada pertemuan pertama tidak banyak bicara, maka dicap pendiam dan terlalu serius. Bila banyak senyum dicap orang yang ramah. Bila banyak bicara dicap cerewet dan sok tau. Bila mementingkan kebenaran dan kesantunan dicap orang yang baik. Bila banyak bertanya dicap suka menyelidiki. Bila berkomitmen untuk memberikan bantuan dicap orang dermawan.
Cap yang baik akan mempermudah komunikasi, karena dasar hubungan manusianya adalah prasangka yang baik. Sedangkan cap yang buruk sudah pasti akan merusak komunikasi, menyebabkan hubungan yang tidak sehat karena menimbulkan prasangka buruk atas setiap tindakan orang lain. Bahkan perbuatan baik yang secara nilai-nilai masyarakat dianggap baik pun bisa ditafsirkan buruk hanya agar sesuai dengan cap buruk yang sudah terlanjur diberikan.
Pemberian cap adalah hal yang wajar selama kita melakukannya seobyektif mungkin, dan tidak menganggap itu sebagai cap permanen. Karena yang menjadi dasar cap hanyalah pengamatan sekilas dan tidak lengkap atas perilaku orang tersebut. Dan mesti disadari bahwa kepribadian asli seseorang tidak bisa terlihat begitu saja, apalagi bila bertemu orang baru. Ada kecenderungan untuk jaim di situ. Di sisi lain, manusia juga selalu berubah, tergantung pengalaman hidup yang dilaluinya; sehingga tidak lah bijak memberikan cap permanen hanya berdasarkan pengamatan yang sekilas dan tidak lengkap tersebut.
Tetapi yang paling kejam adalah memberikan cap ke orang lain hanya berdasarkan bentuk wajah. Bagaimana orang akan membela diri jika yang jadi dasar cap adalah bentuk wajah? haruskah melakukan operasi plastik dulu agar bisa dinilai sebagai orang baik? heee... :p
Salahkah bila menilai orang lain berdasar bentuk wajah?
Ada satu buku tentang bahasa tubuh yang menyatakan bahwa ekspresi keseharian seseorang akan tertanam di wajah orang tersebut.
Bila orang selalu tersenyum dan menampilkan wajah optimis setiap harinya, maka aura senyum dan optimisme akan terlihat di orang itu, walaupun dia sedang diam. Contohnya mungkin mantan presiden Indonesia, Soeharto, yang karena wajah senyumnya sampai-sampai diberikan cap Smiling General.
Bila orang selalu tersenyum dan menampilkan wajah optimis setiap harinya, maka aura senyum dan optimisme akan terlihat di orang itu, walaupun dia sedang diam. Contohnya mungkin mantan presiden Indonesia, Soeharto, yang karena wajah senyumnya sampai-sampai diberikan cap Smiling General.
Sebaliknya bila orang selalu cemberut dan curiga setiap saat, maka ekspresi cemberut dan curiga itu juga tertanam di wajah dan menampilkan ciri bulldog face, wajah yang tidak ramah.
Kebiasaan membentuk kepribadian kita; dan kebiasaan kita dalam mengekspresikan perasaan, akan membentuk wajah kita.
Penting untuk disadari bahwa: diperlukan mata yang berbakat dan terlatih untuk bisa memberikan penilaian yang akurat tentang kepribadian seseorang hanya berdasarkan bentuk wajahnya. Bila kita orang awam dalam ilmu bahasa tubuh dan ekspresi wajah, lebih baik kita kembali ke nasihat orang-orang bijak terdahulu: never judge a book by its cover =)
Senin, 17 Oktober 2011
forgiveness...sometimes it's about the timing
Wanita memang makhluk yang misterius.
Tuhan menciptakan mereka begitu lembut, terlihat "rapuh".. tapi ternyata banyak wanita yang lebih tahan banting daripada pria.
Sifat wanita, begitu juga dengan pria, tidak bisa disamaratakan. Banyak hal yang bisa mempengaruhi terbentuknya karakter wanita.
Ada satu karakter yang tiba-tiba mengusik pikiranku, yaitu tentang memaafkan.
Pengalaman hidup mengajarkan bahwa wanita yang merasa ter-dzalim-i, cenderung menjadi lebih mengasihani diri sendiri ketika pihak yang dianggap men-dzalim-i itu meminta maaf.
Meminta maaf adalah hal yang mulia dan tidak setiap orang mempunyai nyali untuk melakukannya. Tetapi meminta maaf kepada wanita yang sedang merasa ter-dzalimi oleh kita, tidak pas dilakukan seketika itu juga. Apalagi bila permintaan maaf digunakan sebagai kalimat pembuka, maka perasaan wanita akan menjadi sangat sensitif. Perasaan diri sebagai "korban" akan muncul begitu kuat di hati wanita, sehingga proses memaafkan justru malah menjadi terasa sangat berat.
Akan lebih bijak bila sebelum meminta maaf, wanita diajak berbicara dulu, dari hati ke hati, menyamakan persepsi, menyelaraskan pikiran, menyelipkan sedikit canda, sampai senyum mulai terlihat di wajah wanita. Nah, saat mulai muncul senyum itulah saat yang tepat untuk meminta maaf. Kemungkinan penerimaan maaf berada di titik maksimum.
Tuhan menciptakan mereka begitu lembut, terlihat "rapuh".. tapi ternyata banyak wanita yang lebih tahan banting daripada pria.
Sifat wanita, begitu juga dengan pria, tidak bisa disamaratakan. Banyak hal yang bisa mempengaruhi terbentuknya karakter wanita.
Ada satu karakter yang tiba-tiba mengusik pikiranku, yaitu tentang memaafkan.
Pengalaman hidup mengajarkan bahwa wanita yang merasa ter-dzalim-i, cenderung menjadi lebih mengasihani diri sendiri ketika pihak yang dianggap men-dzalim-i itu meminta maaf.
Meminta maaf adalah hal yang mulia dan tidak setiap orang mempunyai nyali untuk melakukannya. Tetapi meminta maaf kepada wanita yang sedang merasa ter-dzalimi oleh kita, tidak pas dilakukan seketika itu juga. Apalagi bila permintaan maaf digunakan sebagai kalimat pembuka, maka perasaan wanita akan menjadi sangat sensitif. Perasaan diri sebagai "korban" akan muncul begitu kuat di hati wanita, sehingga proses memaafkan justru malah menjadi terasa sangat berat.
Akan lebih bijak bila sebelum meminta maaf, wanita diajak berbicara dulu, dari hati ke hati, menyamakan persepsi, menyelaraskan pikiran, menyelipkan sedikit canda, sampai senyum mulai terlihat di wajah wanita. Nah, saat mulai muncul senyum itulah saat yang tepat untuk meminta maaf. Kemungkinan penerimaan maaf berada di titik maksimum.
Langganan:
Komentar (Atom)