Kamis, 20 Oktober 2011

benar saja tidak cukup

Alkisah ada seorang alim yang suatu saat nasehatnya ternyata membuat seorang kaya tersindir dan menjadi tersinggung. begitu tersinggungnya orang kaya ini sehingga setiap yang orang alim lakukan terlihat salah di matanya, dan setiap yang diucapkan orang alim akan diambil penafsiran yang terjelek.

Lama kelamaan orang alim pun merasa terusik, walaupun tahu bahwa orang kaya tersebut hanya menurutkan nafsu emosi dan bukannya mengambil hikmah dari nasehatnya, tetapi perilaku orang kaya tersebut semakin tidak mengenakkan dan kasar.

Sehingga orang alim pun menemui orang kaya tadi dan bertanya "Apakah aku lebih jahat dari Fir'aun?".
"Tidak" jawab orang kaya.
"Apakah kamu lebih mulia daripada Nabi Musa?" lanjut orang alim.
"Tentu saja tidak. Dia nabi sementara aku manusia biasa" jawab orang kaya tanpa ragu.
Kemudian orang alim pun berkata "Lalu mengapa kamu berlaku kasar kepadaku, sementara Nabi Musa sendiri diminta Allah untuk menasihati Fir'aun dengan perkataan yang baik?".

***

Banyak orang yang bilang bahwa selama kita benar, maka kita harus terus maju. Maju terus menerjang semua yang menghalangi.

Tapi apakah bijak untuk seperti itu?

Apa yang kita anggap benar, belum tentu benar di mata orang Tuhan. Tuhan lah pemilik kebenaran sejati.

Dan setiap orang mempunyai alasannya sendiri ketika melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Bila tidak mengetahui alasannya, maka yang terbaik buat jiwa kita sebenarnya adalah untuk berbaik sangka. Kalau itu menyangkut hal yang penting, maka sebaiknya kita lakukan konfirmasi agar tidak salah sangka.

Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, kesantunan dan kesabaran layak untuk dipertimbangkan dalam memilih reaksi kita dalam pergaulan.

Adalah lebih menyenangkan bagi kita untuk hidup dalam kedamaian, cinta dan kasih sayang; daripada hidup yang dipenuhi kebencian, prasangka dan penyesalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar